WHO dan UNICEF Ingatkan Bahaya Turunnya Imunisasi karena Corona

  • Nusaresearch
  • 16-07-2020
  • 239
  • Nilai: 0

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi PBB untuk Anak-anak (UNICEF) memperingatkan bahaya turunnya angka imunisasi di seluruh dunia akibat pandemi Covid-19.

Penurunan ini, ujar WHO dan UNICEF, bisa membalikkan seluruh kemajuan yang telah dicapai selama ini.

Dipaparkan dalam siaran pers WHO, Rabu (15/7/2020); data awal untuk empat bulan pertama 2020 menunjukkan adanya penurunan signifikan dari jumlah anak yang menyelesaikan tiga dosis vaksin difteri, pertusis dan tetanus (DPT). Penurunan ini baru terjadi untuk kali pertama dalam 28 tahun.

Selain itu, setidaknya 30 kampanye vaksin campak terancam batal karena pandemi Covid-19. Padahal, hal ini bisa berisiko wabah campak pada tahun ini atau kemudian.

Lebih jauh, survei baru yang dilaksanakan oleh UNICEF, WHO dan Gavi mengungkap bahwa tiga per empat dari 82 negara yang merespons, melaporkan adanya gangguan terhadap program imunisasi mereka akibat Covid-19 pada Mei 2020.

Penyebab gangguannya bermacam-macam, mulai dari sulitnya menyediakan layanan imunisasi itu sendiri, gangguan transportasi, kesulitan ekonomi hingga keengganan masyarakat untuk meninggalkan rumah dan mendapatkan imunisasi.

Survei juga mengungkap bahwa ada banyak petugas kesehatan yang kesulitan melaksanakan imunisasi karena pergerakannya dibatasi, ditugaskan untuk menangani Covid-19 atau sekadar kekurangan alat perlindungan diri (APD).

Padahal, sebelum pandemi Covid-19 menghantam pun, cakupan imunisasi DPT dan campak secara global macet di angka 85 persen.

WHO dan UNICEF memperkirakan bahwa pada tahun 2019, ada sekitar 14 juta anak yang tidak divaksin DTP3 dan campak. Dua per tiga di antara mereka yang tidak mendapatkan imunisasi hidup di 10 negara berpendapatan rendah dan menengah, termasuk Indonesia, India, Meksiko, Nigeria, Brazil, Pakistan dan Filipina.

Akibat dari seluruh hambatan ini, kemungkinan seorang anak yang lahir hari ini untuk mendapatkan imunisasi lengkap pada usia lima tahun, tidak sampai lima persen.

Menanggapi permasalahan ini, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku Direktur Jenderal WHO, mengingatkan kembali akan pentingnya imunisasi

Dia mengatakan, vaksin adalah salah satu alat terkuat dalam sejarah kesehatan publik, dan kini ada lebih banyak anak yang diimunisasi daripada sebelum-sebelumnya.

"Akan tetapi, pandemi (Covid-19) berisiko mengancam pencapaian ini. Penderitaan dan kematian yang seharusnya bisa dihindari karena anak-anak melewatkan imunisasi rutin bisa jadi lebih lebih parah daripada Covid-19 sendiri," katanya.

"Namun, kondisi tidak perlu jadi seperti itu. Vaksin bisa diberikan secara aman bahkan di masa pandemi, dan kami memanggil negara-negara untuk memastikan program penyelamatan nyawa yang penting ini untuk berlanjut," ujarnya lagi.

sumber: kompas.com

 

If you feel interesting, Please share it

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Google+

Permitaaan laporan untuk kita