Waspada Fenomena 'Zoom Fatigue' saat WFH, Apa Itu?

  • Nusaresearch
  • 15-05-2020
  • 1130
  • Nilai: 0

Pandemi virus corona yang melanda dunia, termasuk Indonesia, telah menimbulkan istilah "The New Normal". Salah satu normal yang baru adalah kegiatan video conference yang banyak dilakukan ketika menerapkan physical distacing.

Kegiatan video conference yang dilakukan lebih sering dibanding sebelum pandemi COVID-19. Ledakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari penggunaan video conference memunculkan istilah baru yaitu "Zoom fatigue" atau kelelahan Zoom.

Istilah itu merujuk pada sifat kelelahan yang muncul saat banyak melakukan video conference. Walau memakai Zoom, istilah tersebut juga berlaku jika menggunakan Google Meets, Skype, FaceTime, atau aplikasi panggilan video call lainnya. Apa penyebab dari Zoom fatigue ini?

Andrew Franklin, asisten profesor ilmu psikologi siber di Norfolk State University menjelaskan, hasil eksperimen sosial terkait penggunaan video call menunjukkan bahwa interaksi virtual bisa sangat memengaruhi otak.

“Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa manusia benar-benar kesulitan karena hal ini,” katanya dikutip National Geographic.

Menurut Franklin, orang-orang saat ini terkejut dengan betapa sulitnya melakukan panggilan video yang terbatas pada layar kecil dan banyaknya gangguan, seperti koneksi, suara, dan lainnya.

Selama tatap muka, otak sebagian berfokus pada kata-kata yang diucapkan, tetapi juga memperoleh makna tambahan dari lusinan isyarat non-verbal, seperti melihat gerak gerik tubuh lawan bicara, gelisah saat berbicara, atau lainnya.

Namun, video conference merusak kemampuan yang tertanam ini, dan membutuhkan perhatian yang berkelanjutan dan intens terhadap kata-kata. Jika kualitas videonya buruk, harapan untuk mendapatkan sesuatu dari ekspresi wajah akan hilang.
"Untuk seseorang yang benar-benar bergantung pada isyarat non-verbal, itu bisa sangat sia-sia untuk tidak memilikinya," kata Franklin.


Tampilan multiple display juga memperbesar masalah Zoom fatigue. Tampilan kotak-kotak kecil di mana semua peserta rapat tampil dengan berbagai gaya menantang visi sentral otak, dan memaksanya untuk memecahkan kode begitu banyak orang sekaligus.

Franklin menyebutkan, perhatian parsial yang terus-menerus bisa disebut sebagai jenis multi-tasking yang membutuhkan fokus otak. Bagi sebagian orang, perpecahan fokus yang berkepanjangan dapat menciptakan rasa bingung.


Otak menjadi kewalahan oleh rangsangan berlebih yang tidak dikenal sambil menjadi kelebihan fokus pada pencarian isyarat non-verbal yang tidak dapat ditemukan. Itulah sebabnya panggilan telepon tradisional mungkin kurang membebani otak karena hanya menyampaikan suara.

Bagaimana cara atasi masalah Zoom Fatigue?
Secara keseluruhan, menurut Franlin, video conference telah menciptakan hubungan komunikasi antar manusia yang tidak mungkin dilakukan beberapa tahun yang lalu.

Teknologi saat ini memungkinkan kita menjaga hubungan dan bekerja dari jarak jauh. Dan sekarang, terlepas dari kelelahan mental yang timbul, panggilan video terkadang menumbuhkan rasa kebersamaan selama pandemi corona berlangsung.

Sangat mungkin bahwa ‘Zoom Fatigue’ ini akan mereda setelah orang-orang belajar mengatur mental mereka. Jika Anda merasa canggung dan butuh sedikit ketenangan, matikan kamera.

Jika rapat kantor dapat dilakukan lewat telepon saja, lakukan sambil berjalan kaki yang diketahui dapat meningkatkan kreativitas dan mengurangi stres. Cobalah melakukan peregangan dan sedikit olahraga.

 

sumber: kumparan.com

If you feel interesting, Please share it

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Google+

Permitaaan laporan untuk kita